Dinas PKKB Muara Enim Gelar Program Perkuat Keluarga Tekan Angka Kelahiran.

0

Peserta Temu Kader Desa.


Muara Enim, inilahmuaraenim.co.id-Untuk membina dan meningkatkan kemampuan para Kader Keluarga Berencana (KB) di desa Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Kabupaten Muara Enim melaksanakan kegiatan Temu Kader yang digelar di Hotel Griya Serasan selama 2 hari yakni 9-10 April, kegiatan yang dikuti 112 perserta yang berasal dari perwakilan desa-desa yang ada di Kabupaten Muara Enim.


Kepala Dinas PPKB dr Yan Riyadi, MARS didampingi oleh Kasi penyuluhan dan Pendayagunaan PKB dan Kader Lela Apika  menjelaskan bahwa kegiatan Temu Kader tersebut dilaksanakan dalam 3 angkatan, Angkatan pertama dilaksanakan pada tanggal 12-13 Februari diikuti 36 kades, angkatan kedua diikuti 113 orang Petugas Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) yang ada di kampung Keluarga Berencana.

Kadin PPKD Muara Enim dr. Yan Riyadi, MARS


“Kegiatan ini inti bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kader KB desa tentang kependudukan, tentang Keluarga Berencana dan tentang Pembangunan keluarga,” kata Kadin PPKB kemudian.


“Para kader ini akan melakukan pendataan kelurga versi BKKBN yakni variabel kemiskina seperti pendataan keluarga, indikator-indikator kesejahteraan yang berjumlah 28 aspek, sedangkan  5 dasar aspek yang harus dimiliki setiap keluarga yakni sandang, pangan, papan kesehatan, agama jika salah satu tidak terpenuhi ia termasuk menjadi keluarga Pra Sejahtera atau berada di zona merah,” urai Yan


“Untuk aspek Kesehatan sudah terpenuhi oleh Pemkab Muara Enim karena ada program Berobat Gratis atau BPJS, aspek Pangan jika dalam satu minggu keluarga tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan protein atau tidak makan lauk serta papan jika rumah lantainya tanah, yang kemudian akan kita upayakan pemenuhan kebutuhan salah satu dengan akan kerjasama dengan BAZNAS melalui program bedah rumah,” terang Yan lagi.


“Melalui pelatihan ini para kader akan mendapat pengetahuan bagaiman penting mengendalikan penduduk salah satunya dengan metode kontrasepsi, juga melalui pendewasaan usia perkawinan, dimana usia perkawinan yang dianjurkan untuk wanita pada usia  20 tahun dan untuk pria pada usia 25 tahun,” jelasnya lebih lanjut.
“Pada pembangungan keluarga akan diberikan langkah kongkrit bagaimana upaya-upaya untuk meningkatan ketahan keluarga dan upaya peningkatan kwalitas keluarga yakni dengan bina keluarga balita bagimana anak-anak harus sehat, kemudian bina keluarga remaja dan melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R),” tambahnya 


“Melalui PIK-P tersebut akan diberikan edukasi kepada para remaja tentang bahayanya pergaulan bebas, bahaya penyalah gunaan narkoba, edukasi batas usia perkawinan dan juga diberikan pengetahuan tentang program KB, sehingga jika mereka menikah mereka akan tahu dan dapat memilih program KB apa nantinya,” lanjutnya.


Masih menurut Kadin PPKB bahwa untuk sekarang bahwa kegiatan PIK-R yang sudah baik dan dapat menjadi contoh ada di SMA Negeri 2 Muara Enim, SMA PTBA dan SMP Negeri 1 Muara Enim.
Dirinya berharap dengan kegiatan ini agar semua pihak terkait dapat bekerjasama karena remaja itu bukan tanggung jawab satu pihak saja tapi semua pihak dan ia juga berharap kepada semua kader KB deda bukan hanya mengurusi alat kontrasepsi saja namun dapat membina disetiap desa ada kelompok bina desa.

“Karena jika mengandalkan Dinas PPKB saja hal tersebut sulit terwujud karena mekanisme penyuluh KB di kabupaten dilakukan oleh dinas PPKB di kecamatan ada balai penyuluh KB dan untuk didesa dibantu para kader yang kita ikut sertakan pelatihan sekarang,” tambahnya lagi.


“Jika kita bicara angka jumlah anak yang dimiliki oleh keluarga yang produkstif untuk Indonesia pada 2,4 persen, di propinsi Sumsel 2,6 persen dan di Kabupaten Muara Enim 2,6 persen itu berarti kesadaran berKB Sudah baik,”kata Yan lagi.


“Namun sampai tahun 2018 yang lalu di Kabupaten Muara Enim masih 7,9 persen pasangan usia subur yang ingin berKB namun belum terjangkau, tapi itu lebih baik jika dibanding kan angka nasional yakni diatas 10 persen, penyebabnya masih klasik yakni letak geografis dan jenis pekerjaan mereka karena tinggal dipelosok dan bekerja di lahan perkebunan dan pertanian yang sulit dijangkau.


“Kami pihak PPKB masih terus  berjuang memberikan edukasi kepada masyarakat pengguna intra uterine Device IUD masih agak sulit, jelas efeknya tidak ada sama sekali disamping itu untuk alat kontrasepsi yang masih digemari yakni suntik, karena berjangka 3 bulan atau 6 bulan akan tetapi seperti kontrasepsi Pil mengandung efek hormon seperti plek, gemuk, kurus, pusing, katanya Yan kemudian.


“Hal tersebut ditambah pemahaman ibu-ibu tentang pemasaangan alat kontraawpsi UID, dan untuk bapak-bapak sendiri dalam hal pengunaan tidak merasa kurang nyaman, padahal tidak sama sekali,” tutupnya (Ccn).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *